Penjelasan Lengkap Mengenai Riba Dalam Islam Oleh Prof. Dr. Quraish Shihab

Riba Dalam Islam – Persoalan riba masih menjadi tema yang sangat menarik untuk di bahas di blog ini. Pasalnya blog ini merupakan blog yang sedikit banyaknya mengulas mengenai peluang usaha dan bisnis rumahan. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebuah bisnis atau usaha erat kaitannya dengan riba. Ketika orang hendak memulai sebuah usaha apalagi bagi mereka yang memiliki modal minim, biasanya selalu meminta bantuan di lembaga pembiayaan terutama di lembaga perbankan. Nah di sini ada banyak pendapat yang berkembang di media sosial bahwa itu tergolong ke dalam riba. Dan dosa riba itu bukan main-main, Allah SWT menyatakan perang bagi pelaku riba. Namun Apakah bunga bank itu riba ?

Baiklah kita mencoba menguraikan pandangan bapak Prof. Dr. Quraish Shihab dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi yang kemudian di dokumenatsikan di youtube dengan durasi lebih dari 34 menit. Bagi saya pribadi apa yang bapak Quraish Shihab kemukakan, mungkin sedikit berbeda dengan pandangan sebagian besar ulama yang banyak videonya di youtube mengenai riba dalam islam. Pandangan bapak Quraish sepertinya lebih moderate, lebih menggunakan logika, dan tidak sekedar mengklaim bahwa bunga bank / pembiayaan itu adalah riba.

Di dalam Al Quran sendiri Riba dalam islam itu di sebut di 4 surah. Yaitu di surah Ar-Ruum, An-Nisa, Al-Imran, dan terakhir di surah Al-Baqarah. Yang pertama kata riba itu ada dalam surah Ar-Ruum yang turun di mekkah.

 

riba dalam islam

 

Kata riba dalam surah ar ruum ini di pahami oleh banyak ulama dalam arti hadiah. Ada orang memberi hadiah dengan maksud mengharap imbal balik di belakangnya. Allah menegur tindakan tersebut. Jika kamu ingin menambah banyak hartamu hendaknya kamu mengeluarkan zakat karena Allah SWT, bukan menjalankan praktik riba atau mengharapkan tambahan/untung dari harta yang engkau pinjamkan ke orang lain.

 

Baca juga : Cara Menghindari Riba Dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Satu hal yang perlu di ketahui bahwa kata riba dalam surah Ar-Ruum ini di tulis tidak pakai waw tetapi ra, ba, dan alif. Sedangkan kata riba dalam ayat dan surah yang lain itu di tulis pakai ra, ba, waw, alif.

Dari situs wikipedia Riba menurut bahasa adalah bertambah atau penambahan. Jadi dari sana banyak sudah mengklaim bahwa apapun yang bertambah seperti pinjaman yang memiliki bunga atau saldo di bank yang bertambah atau berkembang maka di klaim sebagai riba.

Karena itu, saat muncul pengharaman tentang riba dalam islam secara bahasa, orang-orang musyrik mengatakan bahwa jual beli itu juga termasuk dengan riba karena dalam praktik jual dan beli itu ada penambahan ada untung disana. Untuk menjawab kondisi itu, maka turun ayat di dalam Alquran tepatnya di surah Al baqarah ayat 275

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Dapat di tarik kesimpulan bahwa riba itu bukan hanya bertambah atau penambahan. Maka orang pun kian penasaran apa sih sebenarnya yang di maksud riba dalam islam ? Sedangkan Allah SWT terang-terangan mengatakan bahwa riba itu haram dan menghalalkan jual beli. Lantas apa sebenarnya itu riba  ? Dan sebagaimana banyaknya wacana yang beredar bahwa bekerja di bank itu juga termasuk riba ? dan bukan saja pada lembaga perbankan, lembaga pembiayaan pun termasuk dalam riba. Kenapa dalam jual beli bukan riba padahal di situ ada penambahan ?

Selain surah Ar-Ruum, 3 Surah yang membahas tentang riba itu ada di surah Al Imran, An-Nisa, Al Baqarah. Surah Al-Baqarah merupakan surah yang terakhir turun yang berbicara tentang riba. Sedangkan Al Imran dan an Nisa beda pendapat ulama mana yang ke 2 dan mana yang ke 3. Tetapi hal tersebut tetap bisa di ketahui. Sebenarnya ayat di Al Imran itu lebih relevan untuk di bahas. Sebab ayat di An Nisa : 160-161 itu merupakan ayat yang mengandung kecaman kepada orang Yahudi pada saat itu,

…Maka di sebabkan kezaliman orang-orang yahudi, kami haramkan atas mereka (makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) di halalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan di sebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah di larang dari padanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara yang batil….

Karena kekejaman orang yahudi pada saat itu dalam memakan riba, makan sogok, memakan harta orang dengan cara batil, dan menghalangi manusia mendekat kepada Allah dengan melakukan praktik riba, maka apa yang dahulunya di halalkan bagi mereka akhirnya menjadi haram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *